oleh

Lebih Dekat dengan Cina Benteng, Sejarah Sampai Serba-serbinya

Grahanusantara.co.id, Tangerang – Etnis Cina sebagai kelompok Cina Peranakan yang hidup di sekitar Tangerang dan sudah menetap selama ratusan tahun di Tangerang mempunyai sebutan sendiri yaitu “Cina Benteng“.

Nama yang lahir dari asosiasi dengan keberadaannya di Benteng Makasar salah satu wilayah di Kota Tangerang pada masa kolonial. Menurut Kitab Sejarah Sunda Tina Layang Pahrayangan, masyarakat Cina sendiri pertama kali datang di Tangerang pada tahun 1407.

Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Cina yang dipimpin Tjien Tjie Lung di muara Sungai Cisadane.

Dengan adanya relasi sosial tersebut seiring berjalannya waktu berbagai kebudayaanpun mengalami akulturasi yang dimanifestasikan dalam bentuk festival masyarakat yang sangat kaya akan unsur kebudayaan lokal yang didapat dari hasil percampuran beberapa kepercayaan masyarakat setempat.

Memang hal ini pun diajarkan dalam ideologi masyarakat indonesia yaitu Pancasila dimana “Kemanusiaan yang adil dan beradab” yang di dalamnya terdapat rasa saling hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama lain dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga selalu dapat dibina kerukunan hidup beragama.

Kota Tangerang menjadi salah satu wilayah dengan kerukunan umat beragama yang cukup baik dan harmonis, hal ini karena adanya komunikasi yang baik bukan hanya antar umat beragama bahkan dengan jajaran Pemerintah Daerah Kota Tangerang.

Dampak dari itu pluralisme-multikulturalisme yang sudah terjalin dalam realitas sosial di Kota Tangerang sejak dulu, disajikan dalam bentuk sebuah sebuah pesta rakyat dengan nama Festival Cisadane sebuah pesta rakyat yang berisikan kebudayaan-kebudayaan lokal baik yang bersifat tradisi juga bermakna agamis, jika di runtut dalam sejarah singkatnya adalah sebuah perayaan Peh Cun yang berasal dari salah satu etnis tertua yang ada di Kota Tangerang yaitu Cina Benteng.